| |
Dari data Persyarikatan Bangsa Bangsa (United Nation), terdapat sekitar 1,1 milyar penduduk masih belum mendapatkan akses air minum yang sehat dan sekitar 2/3 nya bermukim di benua Asia, serta terdapat sekitar 2,4 milyar penduduk belum mendapatkan akses sanitasi yang sehat dan sekitar 80 persen diantaranya bermukim di Benua Asia. Kondisi ini mengakibatkan setiap tahun sekitar 2,2 juta penduduk dunia meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh rendahnya kualitas dan higienitas air yang dikonsumsi (water borne diseases).
WHO (World Health Organization) Badan dunia yang menaungi kesehatan masyarakat memperkirakan 1,1 Milyar orang didunia tidak memiliki akses untuk mendapatkan air layak minum, diperkirakan hampir 1 juta orang mati setiap tahun karena air minum, angka yang sangat fantastis, mengingat kebanyakan mereka yang mati adalah anak-anak, laporan mengindentifikasikan air yang tidak bersih telah membunuh hampir 3.900 anak-anak setiap harinya. Dilatar belakangi kondisi tersebut, maka dicetuskan Millenium Development Goal (MDG) dalam World Water Forum (WWF) II di the Hogue, Belanda dan dipertegas pada WWF III di Kyoto, Jepang. Secara khusus MDG mentargetkan "mengurangi separuh jumlah/bagian penduduk yang belum mendapatkan akses air minum dan sanitasi yang sehat (reduce by half the proportion of people without sustainable access to safe drinking water ans safe sanitation)" pada tahun 2015.
Suatu kejadian pada pertengahan tahun 2005, taman kota Geneva’s Seneka Lake dikota New York Amerika Serikat sebuah tempat bermain yang seharusnya memberikan kesegaran dan kenyamanan bagi masyarakat yang datang berkunjung, ternyata telah membawa korban bagi 1800 orang pengunjungnya, pancuran taman yang menyediakan air minum bagi wisatawan yang datang ketaman tersebut telah mencemari air minum. Dari penelitian yang dilakukan, ternyata air minum yang berada ditaman itu telah terkontaminasi dengan bakteri cryptosporidiosis, bakteri penyebab diare. Peristiwa taman kota Geneva’s Seneka Lake tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan sesungguhnya dari banyak permasalahan yang terjadi dibanyak belahan bumi baik itu negara maju sebagai champion atau negara-negara yang sedang berkembang.
Sektor air bersih sebagai infrastruktur kota merupakan infrastruktur yang sangat berperan dalam menunjang mutu kesehatan masyarakat. Namun pada kenyataanya pada sebagian besar daerah di Indonesia, sektor infrastruktur air bersih kota belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih penduduk yang berkembang cepat, kapasitas infrastruktur yang dibutuhkan oleh sektor-sektor usaha menjadi sangat minim, kondisi ini menjadi kendala yang cukup berarti bagi Pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyararakat. Pengelolaan sistem penyediaan air bersih yang layak serta memenuhi kebutuhan masyarakat dan aktifitas perkotaan secara keseluruhan akan berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan produktifitas kota serta penurunan tingkat kemiskinan masyarakat.
Pemantauan Lingkungn
Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan dikawasan Tangerang mengadakan pemantauan kwalitas Lingkungan Air Limbah di daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Serang, Pemantauan air limbah, kualitas lingkungan geologi dilakukan pada 35 titik lokasi untuk pengambilan 15 contoh air sumur gali, 9 contoh air sumur pantek, 9 contoh air sungai, dan 6 contoh plankton. Dari pemantauan tersebut, curah hujan rata-rata pertahun antara 1400-3500 mm, sementara suhu udara rata-rata tahunan antara 22,0-32,0 °C, dengan kelembaban nisbi sekitar 74-85 persen. Daerah pemantauan terdiri dari endapan aluvial sungai dan lahar hasil gunung api kuarter, yang dibedakan menjadi 4 pedataran yaitu pegunungan dan kerucut gunungapi, perbukitan, pedataran dan dataran rawa. Sedangkan secara geologi lingkungannya terbagi dalam 8 wilayah, dimana lokasi pengambilan contoh air termasuk kedalam wilayah VI dengan sumberdaya airtanah umumnya berkualitas baik.
Analisis air terhadap 15 contoh air sumur gali dan 9 contoh air sumur pantek, umumnya menunjukkan hasil yang tidak memenuhi persyaratan untuk dipergunakan sebagai air minum sesuai dengan standar Permenkes No. 416 tahun 1990. Kondisi air sumur gali dan pantek tersebut ternyata telah mengalami pencemaran setempat atau disebabkan oleh kondisi lingkungan disekitar sumur tersebut yang tidak terpelihara dengan baik, misalnya letak sumur tersebut berdekatan dengan kakus dan dibuat dengan sangat sederhana tanpa ditembok, sehingga memungkinkan terjadinya rembesan dari buangan sampah, kakus atau air sungai. Sedangkan kondisi air sungai masih memenuhi persyaratan untuk air minum.
Pemantauan terhadap 48 sumur dilakukan di Jakarta pada tahun 2004. Hasil pemantauan menunjukkan hampir sebagian besar sumur yang dipantau telah mengandung bakteri coliform dan fecal coli. Persentase sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Coliform di seluruh Jakarta cukup tinggi, yaitu mencapai 63 persen pada bulan Juni dan 67 persen pada bulan Oktober. Kualitas besi (Fe) dari air tanah terlihat semakin meningkat, dimana beberapa sumur memiliki konsentrasi Fe melebihi baku mutu. Presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu Mn di seluruh DKI Jakarta secara umum sebesar 27 persen pada bulan Juni dan meningkat pada bulan Oktober sebesar 33 persen. Untuk parameter detergen (MBAS), presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 29 persen pada bulan Juni dan meningkat menjadi 46 persen pada bulan Oktober.
Dari pemantauan yang sama di kota Medan oleh Jaringan Kesehatan Masyarakat, objek penelitiannya terdapat di 6 kecamatan di Medan antara lain Kecamatan Medan Denai, Medan Amplas, Medan Belawan, Medan Marelan, Medan Deli, dan Medan Labuhan. Komisaris Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM), dr Delyuzar, "Ini penting dalam konteks menjaga kebersihan air. Jika toilet dan tempat pembuangan kotoran tidak sehat, maka jangan harap kualitas air akan terjaga," katanya usai diskusi bertajuk Sumber Air dan Kejadian Diare di Bawah Tiga Tahun oleh Environmental Service Program (ESP) di Medan (1/6/08).
Memprihatinkan dari pemantauan dilapangan, ternyata kondisi toilet, menyangkut hajat orang banyak di Medan 80 persen tidak sehat, ini dapat dilihat atas penilaian berdasarkan penelitian di enam kecamatan yakni di Medan bagian Utara, sebagian masyarakat malah tidak mempunyai toilet. Indikator kebersihan toilet itu, didasarkan dari bau, ada atau tidak adanya lalat, dan ada atau tidak adanya kotoran.
Di Medan bagian Utara, hanya 40 persen warga saja yang mempunyai toilet. Mereka umumnya pendatang di kawasan itu, sedangkan penduduk asli rata-rata tidak mempunyai toilet karena mereka membuang kotoran manusia langsung ke sungai terdekat. Tidak adanya toilet ini erat kaitannya dengan tingkat perekonomian warga. Mereka tidak terbiasa membangun toilet, tradisi buang air besar disungai salah satu faktor tidak memiliki toilet dirumah.
Ironisnya instansi Pemerintah yang mempunyai cukup ruang dan memiliki fasilitas air bersih juga toiletnya tidak sehat. Dari hasil penelitian ESP, kondisi sanitasi di kawasan Sungai Deli memburuk, berdasarkan data yang dihimpun ESP, setiap tahunnya di Sumut terdapat sekitar 132.000 warga yang terserang diare, sebanyak 48.000 penderita terdapat di Medan. Pada awal 2007 sampai akhir 2007 ESP meneliti perilaku warga dalam mengkonsumsi air di Medan, Deli Serdang, dan Tanah Karo. Di Sumut umumnya, kualitas lingkungan khususnya sumber daya air dan kondisi sanitasi lingkungan di pinggiran kawasan sungai semakin menurun kualitasnya.
Implementasi Penyelamatan Ekosistem
Air sungai dan air permukaan sebagai sumber energi kehidupan sering kali mengalami banyak pencemaran, suatu saat bila semua sungai dan sumber-sumber air telah tercemari, terkontaminasi tentu akan terjadi ledakan dahsyat yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Kualitas air permukaan atau lebih spesifik air sungai, dewasa mengalami kesulitan dalam memenuhi baku mutu sesuai peruntukannya, akibat dari berbagai aktifitas manusia, seperti kegiatan industri, domestik dan pertanian. Perlu tindakan yang konkrit dan menyeluruh dalam penanggulanganya. Perlu teknologi yang tepat dalam meningkatkan kualitas air sungai di segmen sungai tertentu, agar memenuhi baku mutu air sungai yang ditetapkan.
Dari pantauan disejumlah sungai di Sumut dewasa ini dalam kondisi kritis, tidak terkecuali Sungai Deli yang membelah Kota Medan. Mengutip pantauan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumut menyebut, 70 persen penurunan air Sungai Deli disebabkan limbah domestik rumah tangga, terdapat 89 saluran pembuangan limbah domestik ke sungai. Di sepanjang sungai 71 km ini terdapat 48 lokasi pembuangan sampah pada bantaran sungai. Sungai Deli mempunyai anak sungai antara lain Sungai Sikambing, Sungai Babura, Sungai Petani, dan Sungai Simaimai. (Kompas Rabu, 29 Oktober 2008)
Atas kondisi keritis tersebut, maka pentingnya komitmen bersama Pemerintah dan masyarakat dalam penyelamatan mutu sumber air tanah dan air permukaan sebagai sumber air minum masyarakat Sumatera Utara melalui penataan ruang berbasis ekosistem, restorasi kawasan kritis, dan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi di Sumatera Utara. Masyarakat modern membutuhkan sektor pengadaan air bersih yang baik dan terencana, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduknya.
Implementasi dari komitmen penyelamatan ekosistem ini diharapkan dapat menjadi model penyelamatan ekosistem berkelanjutan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia yang menerapkan penataan ruang berbasiskan ekosistem sebagai landasan pembangunan berkelanjutan di masa sekarang dan yang akan datang.***



Tidak ada komentar:
Posting Komentar