JAKARTA. Selama enam bulan, harta kekayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) "hanya" bertambah kurang dari Rp 1 miliar. Sedangkan kekayaan Wapres Boediono melonjak lebih dari Rp 6 miliar dalam enam bulan. SBY dan Boediono bersama sepuluh menteri kemarin (5/3) mengumumkan harta kekayaan di Kantor Presiden. Para pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut mendampingi.
Total harta kekayaan SBY per 23 November 2009 mencapai Rp 7,61 miliar dan USD 269,73 ribu. Dalam pelaporan sebelumnya pada 14 Mei 2009, kekayaan SBY mencapai Rp 6,84 miliar. Sedangkan harta kekayaan Boediono pada 30 September 2009 sebesar Rp 28,08 miliar dan USD 16 ribu. Pada pelaporan 30 April 2009, total kekayaan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu mencapai Rp 22,06 miliar.
Presiden maupun wapres mengumumkan sendiri harta kekayaannya kepada pers tanpa memberikan kesempatan tanya jawab. Dalam pernyataannya, SBY mengatakan bahwa pengumuman harta kekayaan itu merupakan tradisi politik yang baik yang diharapkan rakyat. Dia juga menyeru kepada gubernur, bupati, dan walikota untuk mengumumkan harta kekayaan.
"Ini bagian dari transparansi dan akuntabilitas kepada publik. Kita ingin negara kita makin bersih. Pemerintah ingin mencegah dan memberantas korupsi," kata SBY.
Presiden juga secara khusus meminta para direksi BUMN segera melaporkan dan mengumumkan harta kekayaan. Sebab, berdasarkan data KPK, kepatuhan pejabat BUMN masih rendah. "Saya minta kepada menteri terkait, menteri negara BUMN, untuk menginstruksikan segera memenuhi kewajibannya," tutur presiden.
SBY mengingatkan aset BUMN adalah kekayaan negara yang harus dipertanggungjawabkan. "Meski (BUMN) sebagai korporat memiliki independensi tertentu, sesungguhnya semua aset milik negara wajib dilaporkan," kata presiden.
Pelaksana tugas (Plt) Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean menyatakan bahwa tingkat kepatuhan pejabat BUMN/BUMD paling rendah di antara para penyelenggara negara lainnya. Jumlah pejabat BUMN/BUMD yang harus melaporkan harta kekayaan mereka sebanyak 10.221, tetapi baru 5.706 orang atau 55,8 persen yang menyampaikan laporan.
Tumpak mengungkapkan, secara umum tingkat kepatuhan penyelenggara negara untuk melaporkan kekayaan mereka terus membaik. Untuk eksekutif, dari 83.297 penyelenggara, 65.374 atau 77 persen telah melaporkan harta kekayaan mereka. Seluruh menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I dan II, lanjut Tumpak, sudah melaporkan harta kekayaan mereka. "Hanya saja, nanti harus diikuti dengan pengumumannya," kata Tumpak.
Kemarin 10 menteri juga mengumumkan harta kekayaan mereka. Kekayaan Menko Polhukam Djoko Suyanto per 9 Desember 2009 mencapai Rp 17,21 miliar dan USD 40 ribu. Jumlah ini meningkat 3,5 kali lipat dibandingkan pada 31 Desember 2005 sebesar Rp 5,89 miliar dan USD 33,94 ribu.
Selanjutnya, harta kekayaan Mensesneg Sudi Silalahi per 24 Desember 2009 mencapai Rp 3,56 miliar dan USD 13.000 atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan 5 November 2004 sebesar Rp 1 miliar.
Berikutnya, Mentan Suswono mengumumkan kekayaannya pada 15 November 2009 mencapai Rp 1,95 miliar dan USD 1.700 atau meningkat dibanding pada 15 Oktober 2008 sebesar Rp 1,48 miliar dan USD 4.500. Kekayaan Menkum HAM Patrialis Akbar pada 22 Oktober 2009 sebesar Rp 5,96 miliar atau meningkat dua kali lipat ketimbang sebelumnya sebesar Rp 2,81 miliar dan USD 4 ribu.
Berikutnya, kekayaan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad pada 30 November 2009 mencapai Rp 119,8 miliar dan USD 235,6 ribu. Jumlah kekayaan Fadel itu turun dibandingkan pada 3 Juli 2006 sebesar Rp 121,4 miliar. Menakertrans Muhaimin Iskandar mengumumkan kekayaannya Rp 4,04 miliar pada 30 November 2009 atau meningkat dibandingkan 1 April 2001 sebesar Rp 1 miliar.
Selanjutnya, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan mengumumkan total kekayaannya per 25 Januari 2008 sebesar Rp 17,38 miliar. Pada 24 November 2009 kekayaannya bertambah menjadi Rp 17,54 miliar dan USD 180 ribu. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faisal Zaini mengumumkan kekayaannya per 20 November 2009 sebesar Rp 2,32 miliar atau naik dibandingkan pada 18 Desember 2003 sebesar Rp 487 juta.
Sedangkan kekayaan Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto pada 20 November 2009 mencapai Rp 10,4 miliar dan USD 196 ribu atau meningkat dua kali lipat dibanding 27 Oktober 2005 mencapai Rp 5,6 miliar dan USD 239 ribu. Kekayaan Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri pada 7 Desember 2009 mencapai Rp 6,69 miliar, dan USD 8 ribu melesat dibandingkan 7 Juli 2006 sebesar Rp 465,68 juta.
Sementara itu, kenaikan harga kekayaan Boediono selama enam bulan terakhir diklaim bukan dari gaji selama menjabat wapres. Tetapi, diakui berasal dari sejumlah tunjangan di akhir masa jabatan sebagai gubernur Bank Indonesia (BI).
Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat menuturkan bahwa ketika mundur dari jabatan gubernur BI, Boediono mendapat tunjangan rumah, penambahan gaji, dan tunjangan lain yang total berjumlah Rp 6 miliar. "(Tunjangan akhir masa jabatan gubernur BI) itu satu-satunya sumber penambahan harta. Tidak ada yang istimewa selama menjabat wakil presiden sehingga tidak banyak tambahan kekayaan dibanding selama beliau menjabat gubernur Bank Indonesia," katanya.
Berdasar Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dirilis kemarin, total harta kekayaan Boediono pada 30 September 2009 senilai Rp 28.082.373.823 dan USD 16 ribu. Dalam LHKPN per 30 April 2009, jumlah harta kekayaan Boediono mencapai Rp 22.067.815.019 dan USD 15.000. Kenaikan harta berasal dari investasi surat berharga dan tabungan, giro atau setara kas.
Pada September 2009, nilai surat berharga milik Boediono mencapai Rp 3,7 miliar atau bertambah dibandingkan pada April 2009 yang mencapai Rp 1,2 miliar. Sementara posisi giro pada September 2009 mencapai Rp 16,8 miliar dan USD 16 ribu atau bertambah dari posisi April 2009 sebesar Rp 13,5 miliar dan USD 15 ribu.
Boediono juga tercatat memiliki sejumlah tanah di Sleman, Blitar, dan Jakarta. Nilainya mencapai Rp 6,4 miliar. Untuk harta bergerak, Boediono memiliki mobil Honda Accord 2003, Honda City 2000, Kijang Innova 2008, dan Toyota Camry 2008. Boediono juga memiliki harta kekayaan berupa logam mulia, barang antik, dan benda bergerak lainnya senilai Rp 940 juta. (sof/noe/dwi/jpnn)
Sumber : Samarinda Post

Tidak ada komentar:
Posting Komentar