Powered By Blogger

Senin, 08 Maret 2010

Fobia Sosial

Fobia adalah perasaan takut yang irasional yang menyebabkan kesadaran untuk menghindar dari obyek ketakutan spesifik, aktivitas atau situasi. Fobia sosial, juga disebut sebagai gangguan cemas sosial, adalah gangguan cemas yang termasuk didalamnya distress yang hebat terhadap situasi umum. Individu dengan fobia sosial secara khas mengalami panik selama berhubungan sosial. Situasi ini meliputi berbicara didepan publik, menggunakan kamar kecil/wc umum, makan dengan orang lain atau kontak sosial secara umum. Ketakutan pasien adalah merasa dihina atau dipermalukan oleh orang lain atas kelakuan dirinya dan dapat mengarah menjadi kecemasan yang hebat, dengan peningkatan detak jantung, diaforesis dan tanda lainnya dari pemunculan otonom. Gejala fisik ini dapat disebabkan oleh cemas tambahan, yang sering mendorong ke arah respon takut yang menguatkan kecemasan dalam situasi umum. 1,2,3
Fobia sosial merupakan gangguan jiwa yang cukup sering ditemukan. Walaupun demikian, perhatian terhadap fobia sosial selama ini sangat kurang sehingga sering dikatakan sebagai gangguan cemas yang terabaikan. Kurangnya perhatian terhadap fobia sosial ini disebabkan oleh sedikitnya penderita yang mencari pengobatan untuk fobia sosial yang dideritanya. Biasanya penderita datang berobat bukan untuk fobia sosialnya tetapi untuk keluhan lain yang sering menyertai fobia sosial seperti cemas atau depresi.
Epidemiologi
Fobia sosial terdapat pada 3 sampai 5 persen populasi. Pria dan wanita memiliki angka kejadian yang seimbang. Onset penyakit biasanya dimulai awal umur belasan tahun, walaupun tidak menutup kemungkinan terjasi pada tiap tahap kehidupan. Menurut survey yang dilakukan di Amerika sejak tahun 1994, fobia sosial adalah gangguan jiwa nomer 3 terbesar di Amerika Serikat. Prevalensi fobia sosial terlihat meningkat pada ras kulit putih, orang yang menikah, dan individu dengan taraf pendidikan yang baik. Fobia sosial umumnya bermanifestasi pada orang dewasa tapi biasa terdapat pada anak-anak atau remaja.2,4
Etiologi
Sampai sekarang belum ditemukan penyebab yang pasti. Walaupun demikian, penelitian mengenai etiologi banyak dilakukan saat ini. Ada beberapa teori yang mencoba mengungkapkannya, antara lain:
Teori psikoanalisa
Menurut Freud, fobia sosial atau hysteria‑ansietes merupakan manifestasi dari konflik Oedipal yang tidak terselesaikan. Selain adanya dorongan seksual yang kuat untuk melakukan incest, terdapat pula rasa takut terhadap kastrasi. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik dan ansietas. Akibatnya, ego berusaha menggunakan mekanisme‑pertahanan represi yaitu membuang jauh dari kesadaran. Tatkala represi tidak lagi berhasil, ego berusaha mencari mekanisme pertahanan tarnbahan. Mekanisme pertahanan tambahan adalah displacement. Konflik seksual ditransfer dari orang yang mencetuskan konfilk kepada sesuatu yang sepertinya tidak penting atau objek yang tidak relevan atau situasi yang sakarang mempunyai kekuatan untuk membangkitkan ansietas. Situasi atau obyek yang dipilih atau disimbolkan biasanya berhubungan langsung dengan sumber konflik. Dengan Menghindari objek tersebut pasien dapat lari dari penderitaan ansietas yang serius.2
Teori genetik
Faktor genetik dapat berperanan dalam fobia sosial. Analisa pedigree/silsilah memperlihatkan silsilah pertama dari proband dengan fobia sosial tiga kali beresiko mendapat sosial fobia dibanding kontrol. Namun, gen spesifik belum pernah diisolasi. Perangai anak yang selalu dilarang telah dihubung-hubungkan dengan perkembangan fobia sosial dimasa dewasa.4
Teori Neurotransmiter
Mekanisme Dopaminergik
Dari penelitian didapatkan bahwa fobia sosial berhubungan dengan gangguan pada system dopaminergik. Kadar homovanilic acid (HVA) pada penderita fobia sosial lebih rendah blia dibandingkan dangan penderita panik atau kontrol. Adanya perbaikan gejala fobia sosial dengan pemberian monoamine oxidase inhibitor (MAOI) menunjukkan bahwa kinerja dopamine terganggu pada fobia sosial.
Mekanisme Serotonergik
Pemberian fenilfluramin pada panderita fobia sosial menyebabkan peningkatan kortisol sehingga diperkirakan adanya disregulasi serotonin. Walaupun demikian, pada pemberian methchlorphenylpiperazine (MCPP), suatu serotonin agonis, tidak ditemukan adanya perbedaan respons prolaktin antara pendarita fobia sosial dengan kontrol normal. Begitu pula, pengukuran ikatan platelet (3H)‑paroxetine, suatu petanda untuk mangetahui aktivitas serotonin; tidak terlihat adanya perbedaan antara fobia sosial dengan gangguan panik atau kontrol normal.
Mekanisme Noradrenergik
Penderita fobia sosial sangat sensitif terhadap perubahan kadar epinefrin sehingga dengan cepat terjadi peningkatan denyut jantung, berkeringat dan tremor. Pada orang normal, gejala fisik yang timbul akibat peningkatan epinefrin mereda atau menghilang dengan cepat. Sebaliknya pada penderita fobia sosial tidak terdapat penurunan gejala. Bangkitan gejala fisik yang meningkat semakin mengganggu penampilan di depan umum. Pengalaman ini juga membangkitkan kecamasan pada penampilan berikutnya sehingga mengakibatkan orang tidak berani tampil dan menghindari panampilan selanjutnya.2,3
Pencitraan Otak
Dengan magnetic resonance imaging (MRI) terlihat adanya penurunan volume ganglia basalis pada penderita fobia sosial. Ukuran putamen berkurang pada fobia sosial.
Gambaran Klinik –Kriteria Diagnosis
Menurut DSM-IV
Kriteria A
Ketakutan yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial atau tampil didepan orang yang belum dikenal atau situasi yang memungkinkan ia dinilai oleh orang lain atau menjadi pusat perhatian. Ada perasaan takut bahwa ia akan berperilaku memalukan atau menampakkan gejala cemas atau bersikap yang dapat merendahkan dirinya.
Kriteria B
Apabila pasien terpapar dengan situasi sosial, hampir selalu timbul kecemasan atau bahkan mungkin serangan panik.
Kriteria C
Pasien menyadari bahwa ketakutannya sangat berlebihan dan tidak masuk akal. Ketakutan tersebut tidak merupakan waham atau paranoid.
Kriteria D
Pasien menghindar dari situasi sosial atau menghindar untuk tampil di depan umum atau pasien tetap bertahan pada situasi sosial tersebut tetapi dengan perassan sangat cemas atau sangat menderita.
Kriteria E
Penghindaran dan kecemasan atau penderitaan akibat ketakutan terhadap situasi sosial atau tampil di depan umum tersebut mempengaruhi kehidupan pasien secara bermakna atau mempengaruhi fungsi pekerjaan, aktivitas dan hubungan sosial atau secara subjektif pasien merasa sangat menderita.
Kriteria F
Untuk yang berusia di bawah 18 tahun, durasi paling sedikit 6 bulan.
Kriteria G
Ketakutan atau sikap menghindar tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologik zat atau kondisi medik umum atau gangguan mental lain (gangguan panik dengan atau tanpa agoraphobia, gangaguan dismorfik, gangguan perkembangan prevasif, atau dengan gangguan kepribadian skizoid).
Kriteria H
Bila terdapat kondisi medik umum atau gangguan mental lain, ketakutan pada kriteria A tidak berhubungan dengannya (gagap, Parkinson, atau gangguan perilaku makan seperti bulimia atau anoreksia nervosa) Kriteria A merupakan kunci gejala fobia sosial. Hal yang penting pada kriteria ini yaitu adanya situasi yang dapat membangkitkan fobia yaitu situasi yang dinilai atau diamati oleh orang lain dan juga ketakutan akan memperlihatkan kecemasan atau bertingkah dengan cara yang memalukan.2,3,5
Sedangkan berdasarkan PPDGJ ‑ III diagnosis fobia sosial ditegakkan bardasarkan yaitu
Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti:
  1. gejala psikologis, perilaku atau otonomilk yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala‑gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif;
  2. anxietasnya harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu (outside the family circle); dan
  3. menghindari situasi fobik harus atau sudah merupaken gejala yang menonjol
Bile terlalu sulit untuk membedakan antara fobia sosial dengan agorafobaa, hendaknya diutamakan diagnosa agorafobia.
Perjalanan Penyakit Dan Prognosis
Fobia sosial biasanya mulai pada usia dini sehingga dapat menyebabkan gangguan disemua bidang akademik seperti rendahnya kemampuan sekolah, menghindar dari sekolah, dan sering putus sekolah. Pemilihan karirya sangat terbatea dan ia sering berhenti dari pekerjaan. Fobia sosial cenderung menjadi kronik. Bila tidak diobati depat menjadi komorbiditas dengan gangguan lain seperti depresi, penyalahgunaan alkohol atau obat. Pada penderita agorafobia dan fobia sosial, pemakaian alkohol sering merupakan ussha untuk mengobati diri sendiri.
Penatalaksanaan
Suatu kombinasi pharmacotherapy dan psikoterapi pada umumnya diberikan untuk para orang dengan fobia sosial.
Farmakoterapi
ü Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIS): SSRIS dengan cepat menjadi first-line pengobatan yang baku untuk fobia sosial. Paroxetine menerima pengakuan badan Makanan Dan Administrasi Obat/Racun (FDA) untuk indikasi ini pada tahun 1999 dan SSRI yang pertama memperolehnya. Penelitian menyatakan bahwa SSRIS juga mungkin efektif.
ü Benzodiazepines: Benzodiazepines mungkin efektif untuk fobi sosial, tetapi memiliki profil keselamatan lebih sedikit. Alprazolam Dan Clonazepam telah digunakan dengan sukses.
ü Buspirone: Beberapa studi menyarankan kemanjuran pada penderita fobi sosial.
ü Propranolol: Beta-Blockers telah digunakan untuk blok autonomic terhadap tanggapan dengan fobi sosial. Pencegahan gejala seperti gemetaran peningkatan detak jantung mendorong kearah sukses didalam menghadapi situasi sosial.
ü Monoamine oxidase inhibitors( MAOIS): Phenelzine telah dipertunjukkan untuk bisa efektif didalam studi. Pembatasan yang berkenaan diet makan mengurangi ketenaran mereka. Moclobemide, suatu MAOI lebih baru, pasti mempunyai kemanjuran dengan fobi sosial.
Psikoterapi
Tingkah laku
Psikoterapi tingkah laku, seperti desensitisasi berangsur-angsur, mungkin bermanfaat terhadap fobi sosial. Teknik ini melibatkan secara berangsur-angsur pasien untuk berada situasi pada situasi yang secara normal menyebabkan kecemasan. Dengan penguasaan situasi tanpa kecemasan , pasien secepatnya mampu mentolelir situasi yang yang sebelumnya membuat cemas.
Kognitif
Terapi berorientasi pada pengertian yang mendalam sudah membuktikan bermanfaat bagi fobia sosial. Individu dengan fobia sosial sering mempunyai penyimpangan kognitif penting ketika berhubungan dengan orang lain.2,3,4
Kesimpulan
  1. fobia sosial merupakan ketakutan atau kecemasan pada situasi sosial yang timbul bila seseorang menjadi pusat perhatian
  2. penderita fobia sosial biasanya tidak menganggap masalahnya perlu untuk diobati
  3. bila tidak diobati dapat menimbulkan keterbatasan dalam berbagai segi kehidupan
  4. terapi fobia sosial melingkupi farmakoterapi dan psikoterapi
Daftar Pustaka
  1. Kaplan I.H., Social Phobia, in sinopsys of psikiatry, fifth ed., Williams and Wilkins, london , 322-4
  2. Social Phobia, available at : http://www.emedicine.com/ped/topic2660.htm
  3. Social Phobia, available at : http://www.nmha.org/pbedu/anxiety/social.cfm
  4. Causes of Phobias and causes of panic attacks, available at : http://www.saviodsilva.net/ph/3.htm
  5. DSM-IV & DSM-IV-TR, social phobia, available at : http://www.ship.edu/~cgboeree/freud.html

Sabtu, 06 Maret 2010

Oknum Honorer Pemkot dan Mahasiswi Kepergok Mesum 6 Pasangan Tak Sah Dikeler Polisi dari Hotel




SAMARINDA. Nama baik Pemkot Samarinda kembali tercoreng oleh oknum pegawainya. Kali ini dilakukan seorang pegawai honor berinisial YO yang kepergok tengah berduaan di dalam kamar Hotel RA di Jl Gatot Subroto, Samarinda Utara, bersama seorang wanita berinisial ID, saat razia yang dilakukan polisi, Sabtu (6/3) dini hari kemarin. Keduannya pun, tak dapat berkutik tak kala polisi meminta YO dan ID, untuk memperlihatkan buku nikah yang sah. Bahkan ID, gadis berparas cantik ini pun, berusaha menghindari polisi yang melakukan razia hingga masuk ke kamar mandi.
Belakangan diketahui, ID yang sehari-harinya menggunakan jilbab ini, berstatus sebagai mahasiswi yang masih aktif di salah satu perguruan tinggi di Samarinda. Seolah tak mau dituding yang tidak-tidak, YO dan ID yang sudah jelas-jelas kepergok tengah berduaan di dalam kamar itu, mencoba mengelak tudingan telah berbuat mesum.
Bahkan kedua insan berlainan jenis ini pun, mengaku kakak beradik. Namun ketika diminta menunjukan Kartu Tanda Penduduk (KTP), tak ada satu pun bukti yang menunjukan YO dan ID adalah saudara kandung.
Tak hanya YO dan ID saja yang berhasil terjaring dalam razia yang diberi sandi Operasi Pekat Mahakam (OPM) itu. Tercatat ada 6 pasangan mesum lainnya yang berhasil ditangkap dan dikeler polisi, lantaran tak dapat menunjukan buku nikah yang sah.
Sementara razia yang berlangsung selama 2 jam itu, pertama kali dilakukan oleh polisi dengan menyambangi Hotel Mut di Jl Kartini, Samarinda Ilir. Di hotel tersebut, polisi berhasil menangkap 4 pasangan mesum yang tengah berduaan di kamar-kamar hotel.
Tak ada perlawanan yang berarti dari mereka yang terjaring dalam razia. Mereka manut saja dibawa polisi menuju Poltabes Samarinda, Jl Bhayangkara. Razia pun kembali dilanjutkan, menuju Hotel RA. Dalam razia yang dilakukan polisi di hotel tersebut, 3 pasangan mesum termasuk YO dan ID, dikeler polisi juga diakibatkan bukan pasangan yang sah.
Kapoltabes Samarinda Kombes Pol HM Arkan Hamzah, melalui Kabag Ops Kompol Ahmad Yusep Gunawan SIK mengatakan, seluruh pasangan mesum yang terjaring razia kepolisian hanya diberi pembinaan. "Juga kami data dan kami minta agar tidak mengulangi perbuatan yang sama. Setelah kami bina, mereka langsung kami pulangkan," ucapnya. (oke)

Sumber : Samarinda Pos

Mengenal Kecamatan Samboja

Alamat

Jl. Raya Balikpapan - Handil II RT.I Kel.Kuala Samboja
Telp/Fax Kantor : (0542) 7215796
Nama Camat : H. Saifuddin HS, S.Sos. MM
NIP : 196009061987121001
Alamat Rumah Kepala Camat : Jl. Balikpapan - Handil II RT.I Kel.Sei Seluang
Telp : (0542) 7215330

Potensi Sumber Daya Alam

Pertanian Padi, Nanas, Sayuran
Perkebunan Kelapa Sawit, Kare, Kelapa Dalam, Lada
Peternakan Sapi potong, Ayam Potong, Ayam Buras, Kambing
Perikanan Udang Windu,Jenis Ikan Laut, Udang Kering/Udang Rapai
Kehutanan Sengon,Mahoni,Jati

Potensi Pariwisata

  • 1. Pantai Tanah Merah
  • 2. Bukit Bengkirai
  • 3. Air Panas
  • 4. Pantai Amborawang Laut

Potensi Sumber Daya Manusia

Luas Wilayah 1.380.00
Penduduk 52.371 jiwa
Kepadatan 38 jiwa/km2
Jumlah Desa 4 Desa
Jumlah Kelurahan 17 Kelurahan

Potensi Perdagangan dan Industri

Koperasi 9 buah
Pasar 3 Pasar

Ragam Kegiatan Industri

Gas Samator
Minyak Total E&P, VICO, MEDCO
Batu Bara Gunung Harang Sejahtera, Tuah Bumi Etam
Ternak Potong Satwa Borneo
Limbah Minyak LPKK
Tahu Tahu Semedang

Sarana Ibadah

Masjid 66 buah
Langgar 71 buah
Musholla -
Gereja Katholik 2 buah
Gereja Protestan 14 buah

Sarana Kesehatan

Rumah Sakit 1 buah
Puskesmas 2 buah
Puskesmas Pembantu 15 buah
Bidan -

Sarana Pendidikan

TK 41 buah
SD 44 buah
SMP Negeri 4 buah
SMP Swasta 11 buah
SLTA Negeri 2 buah
SLTA Swasta 8 buah

Ekologi : Bagian Pertama

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos  yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya (lihat Gambar 6. 1).

Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914).

Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang banyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas.

Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.

Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.


POPULASI



Populasi adalah sekelompok mahkluk hidup dengan spesies yang sama, yang hidup di suatu wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sama pula. Misalnya semua rusa di Isle Royale membentuk suatu populasi, begitu juga dengan pohon-pohon cemara. Ahli ekologi memastikan dan menganalisa jumlah dan pertumbuhan dari populasi serta hubungan antara masing-masing spesies dan kondisi-kondisi lingkungan.
  • Faktor yang menentukan populasi
    Jumlah dari suatu populasi tergantung pada pengaruh dua kekuatan dasar. Pertama adalah jumlah yang sesuai bagi populasi untuk hidup dengan kondisi yang ideal. Kedua adalah gabungan berbagai efek kondisi faktor lingkungan yang kurang ideal yang membatasi pertumbuhan. Faktor-faktor yang membatasi diantaranya ketersediaan jumlah makanan yang rendah, pemangsa, persaingan dengan mahkluk hidup sesama spesies atau spesies lainnya, iklim dan penyakit.



    Jumlah terbesar dari populasi tertentu yang dapat didukung oleh lingkungan tertentu disebut dengan kapasitas beban lingkungan untuk spesies tersebut. Populasi yang normal biasanya lebih kecil dari kapasitas beban lingkungan bagi mereka disebabkan oleh efek cuaca yang buruk, musim mengasuh bayi yang kurang bagus, perburuan oleh predator, dan faktor-faktor lainnya.

    • Faktor-faktor yang merubah populasi

    Tingkat populasi dari spesies bisa banyak berubah sepanjang waktu. Kadangkala perubahan ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa alam. Misalnya perubahan curah hujan bisa menyebabkan beberapa populasi meningkat sementara populasi lainnya terjadi penurunan. Atau munculnya penyakit-penyakit baru secara tajam dapat menurunkan populasi suatu spesies tanaman atau hewan. Sebagai contoh peralatan berat dan mobil menghasilkan gas asam yang dilepas ke dalam atmosfer, yang bercampur dengan awan Dan turun ke bumi sebagai hujan asam. Di beberapa wilayah yang menerima hujan asam dalam jumlah besar populasi ikan menurun secara tajam.

    KOMUNITAS


    Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak".


    Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
    Cara yang paling baik untuk menamakan komunitas itu adalah dengan mengambil beberapa sifat yang jelas dan mantap, baik hidup maupun tidak. Ringkasannya pemberian nama komunitas dapat berdasarkan :
    1.Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan Dipterocarphaceae, dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil
    2.Berdasarkan habitat fisik dari komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan,dll
    3.Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut hutan hujan tropik.


    Penyelamatan Ekosistem Sumber Air Minum



    Cetak Email
    Oleh : Ir. Tauhid Ichyar, MT
    Dari data Persyarikatan Bangsa Bangsa (United Nation), terdapat sekitar 1,1 milyar penduduk masih belum mendapatkan akses air minum yang sehat dan sekitar 2/3 nya bermukim di benua Asia, serta terdapat sekitar 2,4 milyar penduduk belum mendapatkan akses sanitasi yang sehat dan sekitar 80 persen diantaranya bermukim di Benua Asia. Kondisi ini mengakibatkan setiap tahun sekitar 2,2 juta penduduk dunia meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh rendahnya kualitas dan higienitas air yang dikonsumsi (water borne diseases).
    WHO (World Health Organization) Badan dunia yang menaungi kesehatan masyarakat memperkirakan 1,1 Milyar orang didunia tidak memiliki akses untuk mendapatkan air layak minum, diperkirakan hampir 1 juta orang mati setiap tahun karena air minum, angka yang sangat fantastis, mengingat kebanyakan mereka yang mati adalah anak-anak, laporan mengindentifikasikan air yang tidak bersih telah membunuh hampir 3.900 anak-anak setiap harinya. Dilatar belakangi kondisi tersebut, maka dicetuskan Millenium Development Goal (MDG) dalam World Water Forum (WWF) II di the Hogue, Belanda dan dipertegas pada WWF III di Kyoto, Jepang. Secara khusus MDG mentargetkan "mengurangi separuh jumlah/bagian penduduk yang belum mendapatkan akses air minum dan sanitasi yang sehat (reduce by half the proportion of people without sustainable access to safe drinking water ans safe sanitation)" pada tahun 2015.
    Suatu kejadian pada pertengahan tahun 2005, taman kota Geneva’s Seneka Lake dikota New York Amerika Serikat sebuah tempat bermain yang seharusnya memberikan kesegaran dan kenyamanan bagi masyarakat yang datang berkunjung, ternyata telah membawa korban bagi 1800 orang pengunjungnya, pancuran taman yang menyediakan air minum bagi wisatawan yang datang ketaman tersebut telah mencemari air minum. Dari penelitian yang dilakukan, ternyata air minum yang berada ditaman itu telah terkontaminasi dengan bakteri cryptosporidiosis, bakteri penyebab diare. Peristiwa taman kota Geneva’s Seneka Lake tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan sesungguhnya dari banyak permasalahan yang terjadi dibanyak belahan bumi baik itu negara maju sebagai champion atau negara-negara yang sedang berkembang.
    Sektor air bersih sebagai infrastruktur kota merupakan infrastruktur yang sangat berperan dalam menunjang mutu kesehatan masyarakat. Namun pada kenyataanya pada sebagian besar daerah di Indonesia, sektor infrastruktur air bersih kota belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih penduduk yang berkembang cepat, kapasitas infrastruktur yang dibutuhkan oleh sektor-sektor usaha menjadi sangat minim, kondisi ini menjadi kendala yang cukup berarti bagi Pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyararakat. Pengelolaan sistem penyediaan air bersih yang layak serta memenuhi kebutuhan masyarakat dan aktifitas perkotaan secara keseluruhan akan berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan produktifitas kota serta penurunan tingkat kemiskinan masyarakat.
    Pemantauan Lingkungn
    Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan dikawasan Tangerang mengadakan pemantauan kwalitas Lingkungan Air Limbah di daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Serang, Pemantauan air limbah, kualitas lingkungan geologi dilakukan pada 35 titik lokasi untuk pengambilan 15 contoh air sumur gali, 9 contoh air sumur pantek, 9 contoh air sungai, dan 6 contoh plankton. Dari pemantauan tersebut, curah hujan rata-rata pertahun antara 1400-3500 mm, sementara suhu udara rata-rata tahunan antara 22,0-32,0 °C, dengan kelembaban nisbi sekitar 74-85 persen. Daerah pemantauan terdiri dari endapan aluvial sungai dan lahar hasil gunung api kuarter, yang dibedakan menjadi 4 pedataran yaitu pegunungan dan kerucut gunungapi, perbukitan, pedataran dan dataran rawa. Sedangkan secara geologi lingkungannya terbagi dalam 8 wilayah, dimana lokasi pengambilan contoh air termasuk kedalam wilayah VI dengan sumberdaya airtanah umumnya berkualitas baik.
    Analisis air terhadap 15 contoh air sumur gali dan 9 contoh air sumur pantek, umumnya menunjukkan hasil yang tidak memenuhi persyaratan untuk dipergunakan sebagai air minum sesuai dengan standar Permenkes No. 416 tahun 1990. Kondisi air sumur gali dan pantek tersebut ternyata telah mengalami pencemaran setempat atau disebabkan oleh kondisi lingkungan disekitar sumur tersebut yang tidak terpelihara dengan baik, misalnya letak sumur tersebut berdekatan dengan kakus dan dibuat dengan sangat sederhana tanpa ditembok, sehingga memungkinkan terjadinya rembesan dari buangan sampah, kakus atau air sungai. Sedangkan kondisi air sungai masih memenuhi persyaratan untuk air minum.
    Pemantauan terhadap 48 sumur dilakukan di Jakarta pada tahun 2004.  Hasil pemantauan menunjukkan  hampir sebagian besar sumur yang dipantau telah mengandung bakteri coliform dan fecal coli.   Persentase sumur yang telah melebihi baku mutu untuk parameter Coliform di seluruh Jakarta cukup tinggi,  yaitu mencapai 63 persen pada bulan Juni dan 67 persen pada bulan Oktober.  Kualitas besi (Fe) dari air tanah terlihat semakin meningkat, dimana beberapa sumur memiliki konsentrasi Fe melebihi baku mutu. Presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu Mn di seluruh DKI Jakarta secara umum sebesar 27 persen pada bulan Juni dan meningkat pada bulan Oktober sebesar 33 persen.  Untuk parameter detergen (MBAS), presentase jumlah sumur yang melebihi baku mutu di DKI Jakarta sebesar 29 persen pada bulan Juni dan meningkat menjadi 46 persen pada bulan Oktober. 
    Dari pemantauan yang sama di kota Medan oleh Jaringan Kesehatan Masyarakat, objek penelitiannya terdapat di 6 kecamatan di Medan antara lain Kecamatan Medan Denai, Medan Amplas, Medan Belawan, Medan Marelan, Medan Deli, dan Medan Labuhan. Komisaris Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM), dr Delyuzar, "Ini penting dalam konteks menjaga kebersihan air. Jika toilet dan tempat pembuangan kotoran tidak sehat, maka jangan harap kualitas air akan terjaga," katanya usai diskusi bertajuk Sumber Air dan Kejadian Diare di Bawah Tiga Tahun oleh Environmental Service Program (ESP) di Medan (1/6/08).
    Memprihatinkan dari pemantauan dilapangan, ternyata kondisi toilet, menyangkut hajat orang banyak di Medan 80 persen tidak sehat, ini dapat dilihat atas penilaian berdasarkan penelitian di enam kecamatan yakni di Medan bagian Utara, sebagian masyarakat malah tidak mempunyai toilet.  Indikator kebersihan toilet itu, didasarkan dari bau, ada atau tidak adanya lalat, dan ada atau tidak adanya kotoran.
    Di Medan bagian Utara, hanya 40 persen warga saja yang mempunyai toilet. Mereka umumnya pendatang di kawasan itu, sedangkan penduduk asli rata-rata tidak mempunyai toilet karena mereka membuang kotoran manusia langsung ke sungai terdekat. Tidak adanya toilet ini erat kaitannya dengan tingkat perekonomian warga. Mereka tidak terbiasa membangun toilet, tradisi buang air besar disungai salah satu faktor tidak memiliki toilet dirumah.
    Ironisnya instansi Pemerintah yang mempunyai cukup ruang dan memiliki fasilitas air bersih juga toiletnya tidak sehat. Dari hasil penelitian ESP, kondisi sanitasi di kawasan Sungai Deli memburuk, berdasarkan data yang dihimpun ESP, setiap tahunnya di Sumut terdapat sekitar 132.000 warga yang terserang diare, sebanyak 48.000 penderita terdapat di Medan.  Pada awal 2007 sampai akhir 2007 ESP meneliti perilaku warga dalam mengkonsumsi air di Medan, Deli Serdang, dan Tanah Karo. Di Sumut umumnya, kualitas lingkungan khususnya sumber daya air dan kondisi sanitasi lingkungan di pinggiran kawasan sungai semakin menurun kualitasnya.
    Implementasi Penyelamatan Ekosistem
    Air sungai dan air permukaan sebagai sumber energi kehidupan sering kali mengalami banyak pencemaran, suatu saat bila semua sungai dan sumber-sumber air telah tercemari, terkontaminasi tentu akan terjadi ledakan dahsyat yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Kualitas air permukaan atau lebih spesifik air sungai, dewasa mengalami kesulitan dalam memenuhi baku mutu sesuai peruntukannya, akibat dari berbagai aktifitas manusia, seperti kegiatan industri, domestik dan pertanian. Perlu tindakan yang konkrit dan menyeluruh dalam penanggulanganya. Perlu teknologi yang tepat dalam meningkatkan kualitas air sungai di segmen sungai tertentu, agar memenuhi baku mutu air sungai yang ditetapkan.
    Dari pantauan disejumlah sungai di Sumut dewasa ini dalam kondisi kritis, tidak terkecuali Sungai Deli yang membelah Kota Medan. Mengutip pantauan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumut menyebut, 70 persen penurunan air Sungai Deli disebabkan limbah domestik rumah tangga, terdapat 89 saluran pembuangan limbah domestik ke sungai. Di sepanjang sungai 71 km ini terdapat 48 lokasi pembuangan sampah pada bantaran sungai. Sungai Deli mempunyai anak sungai antara lain Sungai Sikambing, Sungai Babura, Sungai Petani, dan Sungai Simaimai. (Kompas Rabu, 29 Oktober 2008)
    Atas kondisi keritis tersebut, maka pentingnya komitmen bersama Pemerintah dan masyarakat dalam penyelamatan mutu sumber air tanah dan air permukaan sebagai sumber air minum masyarakat Sumatera Utara melalui penataan ruang berbasis ekosistem, restorasi kawasan kritis, dan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi di Sumatera Utara. Masyarakat modern membutuhkan sektor pengadaan air bersih yang baik dan terencana, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduknya.
    Implementasi dari komitmen penyelamatan ekosistem ini diharapkan dapat menjadi model penyelamatan ekosistem berkelanjutan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia yang menerapkan penataan ruang berbasiskan ekosistem sebagai landasan pembangunan berkelanjutan di masa sekarang dan yang akan datang.***

    Harta SBY Tambah Rp 1 Miliar, Boediono Meningkat Rp 6 Miliar Saat Umumkan Kekayaan Bersama 10 Menteri

    JAKARTA. Selama enam bulan, harta kekayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) "hanya" bertambah kurang dari Rp 1 miliar. Sedangkan kekayaan Wapres Boediono melonjak lebih dari Rp 6 miliar dalam enam bulan. SBY dan Boediono bersama sepuluh menteri kemarin (5/3) mengumumkan harta kekayaan di Kantor Presiden. Para pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut mendampingi.
    Total harta kekayaan SBY per 23 November 2009 mencapai Rp 7,61 miliar dan USD 269,73 ribu. Dalam pelaporan sebelumnya pada 14 Mei 2009, kekayaan SBY mencapai Rp 6,84 miliar. Sedangkan harta kekayaan Boediono pada 30 September 2009 sebesar Rp 28,08 miliar dan USD 16 ribu. Pada pelaporan 30 April 2009, total kekayaan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu mencapai Rp 22,06 miliar.
    Presiden maupun wapres mengumumkan sendiri harta kekayaannya kepada pers tanpa memberikan kesempatan tanya jawab. Dalam pernyataannya, SBY mengatakan bahwa pengumuman harta kekayaan itu merupakan tradisi politik yang baik yang diharapkan rakyat. Dia juga menyeru kepada gubernur, bupati, dan walikota untuk mengumumkan harta kekayaan.
    "Ini bagian dari transparansi dan akuntabilitas kepada publik. Kita ingin negara kita makin bersih. Pemerintah ingin mencegah dan memberantas korupsi," kata SBY.
    Presiden juga secara khusus meminta para direksi BUMN segera melaporkan dan mengumumkan harta kekayaan. Sebab, berdasarkan data KPK, kepatuhan pejabat BUMN masih rendah. "Saya minta kepada menteri terkait, menteri negara BUMN, untuk menginstruksikan segera memenuhi kewajibannya," tutur presiden.
    SBY mengingatkan aset BUMN adalah kekayaan negara yang harus dipertanggungjawabkan. "Meski (BUMN) sebagai korporat memiliki independensi tertentu, sesungguhnya semua aset milik negara wajib dilaporkan," kata presiden.
    Pelaksana tugas (Plt) Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean menyatakan bahwa tingkat kepatuhan pejabat BUMN/BUMD paling rendah di antara para penyelenggara negara lainnya. Jumlah pejabat BUMN/BUMD yang harus melaporkan harta kekayaan mereka sebanyak 10.221, tetapi baru 5.706 orang atau 55,8 persen yang menyampaikan laporan.
    Tumpak mengungkapkan, secara umum tingkat kepatuhan penyelenggara negara untuk melaporkan kekayaan mereka terus membaik. Untuk eksekutif, dari 83.297 penyelenggara, 65.374 atau 77 persen telah melaporkan harta kekayaan mereka. Seluruh menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I dan II, lanjut Tumpak, sudah melaporkan harta kekayaan mereka. "Hanya saja, nanti harus diikuti dengan pengumumannya," kata Tumpak.
    Kemarin 10 menteri juga mengumumkan harta kekayaan mereka. Kekayaan Menko Polhukam Djoko Suyanto per 9 Desember 2009 mencapai Rp 17,21 miliar dan USD 40 ribu. Jumlah ini meningkat 3,5 kali lipat dibandingkan pada 31 Desember 2005 sebesar Rp 5,89 miliar dan USD 33,94 ribu.
    Selanjutnya, harta kekayaan Mensesneg Sudi Silalahi per 24 Desember 2009 mencapai Rp 3,56 miliar dan USD 13.000 atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan 5 November 2004 sebesar Rp 1 miliar.
    Berikutnya, Mentan Suswono mengumumkan kekayaannya pada 15 November 2009 mencapai Rp 1,95 miliar dan USD 1.700 atau meningkat dibanding pada 15 Oktober 2008 sebesar Rp 1,48 miliar dan USD 4.500. Kekayaan Menkum HAM Patrialis Akbar pada 22 Oktober 2009 sebesar Rp 5,96 miliar atau meningkat dua kali lipat ketimbang sebelumnya sebesar Rp 2,81 miliar dan USD 4 ribu.
    Berikutnya, kekayaan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhamad pada 30 November 2009 mencapai Rp 119,8 miliar dan USD 235,6 ribu. Jumlah kekayaan Fadel itu turun dibandingkan pada 3 Juli 2006 sebesar Rp 121,4 miliar. Menakertrans Muhaimin Iskandar mengumumkan kekayaannya Rp 4,04 miliar pada 30 November 2009 atau meningkat dibandingkan 1 April 2001 sebesar Rp 1 miliar.
    Selanjutnya, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan mengumumkan total kekayaannya per 25 Januari 2008 sebesar Rp 17,38 miliar. Pada 24 November 2009 kekayaannya bertambah menjadi Rp 17,54 miliar dan USD 180 ribu. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faisal Zaini mengumumkan kekayaannya per 20 November 2009 sebesar Rp 2,32 miliar atau naik dibandingkan pada 18 Desember 2003 sebesar Rp 487 juta.
    Sedangkan kekayaan Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto pada 20 November 2009 mencapai Rp 10,4 miliar dan USD 196 ribu atau meningkat dua kali lipat dibanding 27 Oktober 2005 mencapai Rp 5,6 miliar dan USD 239 ribu. Kekayaan Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri pada 7 Desember 2009 mencapai Rp 6,69 miliar, dan USD 8 ribu melesat dibandingkan 7 Juli 2006 sebesar Rp 465,68 juta.
    Sementara itu, kenaikan harga kekayaan Boediono selama enam bulan terakhir diklaim bukan dari gaji selama menjabat wapres. Tetapi, diakui berasal dari sejumlah tunjangan di akhir masa jabatan sebagai gubernur Bank Indonesia (BI).
    Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat menuturkan bahwa ketika mundur dari jabatan gubernur BI, Boediono mendapat tunjangan rumah, penambahan gaji, dan tunjangan lain yang total berjumlah Rp 6 miliar. "(Tunjangan akhir masa jabatan gubernur BI) itu satu-satunya sumber penambahan harta. Tidak ada yang istimewa selama menjabat wakil presiden sehingga tidak banyak tambahan kekayaan dibanding selama beliau menjabat gubernur Bank Indonesia," katanya.
    Berdasar Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dirilis kemarin, total harta kekayaan Boediono pada 30 September 2009 senilai Rp 28.082.373.823 dan USD 16 ribu. Dalam LHKPN per 30 April 2009, jumlah harta kekayaan Boediono mencapai Rp 22.067.815.019 dan USD 15.000. Kenaikan harta berasal dari investasi surat berharga dan tabungan, giro atau setara kas.
    Pada September 2009, nilai surat berharga milik Boediono mencapai Rp 3,7 miliar atau bertambah dibandingkan pada April 2009 yang mencapai Rp 1,2 miliar. Sementara posisi giro pada September 2009 mencapai Rp 16,8 miliar dan USD 16 ribu atau bertambah dari posisi April 2009 sebesar Rp 13,5 miliar dan USD 15 ribu.
    Boediono juga tercatat memiliki sejumlah tanah di Sleman, Blitar, dan Jakarta. Nilainya mencapai Rp 6,4 miliar. Untuk harta bergerak, Boediono memiliki mobil Honda Accord 2003, Honda City 2000, Kijang Innova 2008, dan Toyota Camry 2008. Boediono juga memiliki harta kekayaan berupa logam mulia, barang antik, dan benda bergerak lainnya senilai Rp 940 juta. (sof/noe/dwi/jpnn)

    Sumber : Samarinda Post

    Emisi karbon dioksida

    Ada banyak cara yang harus diketahui untuk mengurangi emisi karbon dioksida, yaitu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil; menggunakan energi terbarukan seperti energi surya atau angin; mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang barang-barang keperluan sehari-hari; mengendarai mobil berbahan bakar efisien atau yang menggunakan energi alternatif; menggunakan alat-alat elektronik yang hemat energi, dan lain-lain. Namun cara yang paling cepat untuk menghentikan pemanasan global adalah menjalani diet vegetarian!

    Dalam konferensi pers pada tanggal 15 Januari yang diselenggarakan oleh Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), ketua IPCC - Dr. Pachuari mengingatkan bahwa jika umat manusia tidak bertindak sekarang, maka perubahan iklim akan berdampak serius. Ia juga dengan jelas mengatakan cara untuk menghentikan perubahan iklim, yaitu dengan berhenti makan daging dan beralih ke gaya hidup yang lebih hijau.

    Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa, "Sektor peternakan adalah satu dari dua atau tiga penyumbang terbesar bagi krisis lingkungan yang paling serius dalam setiap skala, mulai dari lokal hingga global." Hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!

    Industri ternak ternyata telah menjadi penyebab utama dari pengrusakan lingkungan dan emisi gas rumah kaca. Memelihara ternak untuk konsumsi telah menjadi salah satu penghasil gas karbon dioksida terbesar serta menjadi satu-satunya sumber emisi gas metana dan nitro oksida terbesar. Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen racun karbon dioksida, 65 persen nitro oksida, dan 37 persen gas metana yang dihasilkan karena ulah manusia. Gas metana menghasilkan gas rumah kaca 20 kali lebih besar dan nitro oksida 296 kali lebih banyak jauh di atas karbon dioksida. Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam.

    Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak. Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock’s Long Shadow–Environmental Issues and Options), peternakan adalah "penggerak utama dari penebangan hutan …. kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.

    Konsumsi air untuk menghasilkan satu kilo makanan dalam pertanian pakan ternak di Amerika Serikat

    1 kg daging

    Air (liter)

    Daging sapi

    1.000.000

    Ayam

    3.500

    Kedelai

    2.000

    Beras

    1.912

    Gandum

    900

    Kentang

    500

    Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak menjadi daging di atas meja makan orang. Untuk memproduksi satu kilogram daging, telah menghasilkan emisi karbon dioksida sebanyak 36,4 kilo. Sedangkan untuk memproduksi satu kalori protein, kita hanya memerlukan dua kalori bahan bakar fosil untuk menghasilkan kacang kedelai, tiga kalori untuk jagung dan gandum; akan tetapi memerlukan 54 kalori energi minyak tanah untuk protein daging sapi!

    Itu berarti kita telah memboroskan bahan bakar fosil 27 kali lebih banyak hanya untuk membuat sebuah hamburger daripada konsumsi yang diperlukan untuk membuat hamburger dari kacang kedelai!

    Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih.

    Tahun lalu, penyelidik dari Departemen Sains Geofisika (Department of Geophysical Sciences) Universitas Chicago, Gidon Eshel dan Pamela Martin, juga menyingkap hubungan antara produksi makanan dan masalah lingkungan. Mereka mengukur jumlah gas rumah kaca yang disebabkan oleh daging merah, ikan, unggas, susu, dan telur, serta membandingkan jumlah tersebut dengan seorang yang berdiet vegan. Mereka menemukan bahwa jika diet standar Amerika beralih ke diet tumbuh-tumbuhan, maka akan dapat mencegah satu setengah ton emisi gas rumah kaca ektra per orang per tahun. Kontrasnya, beralih dari sebuah sedan standar seperti Toyota Camry ke sebuah Toyota Prius hibrida menghemat kurang lebih satu ton emisi CO2.